Sabtu, 12 November 2011

HARGA TEMBAKAU PETIKAN JATIM MENURUN





        BILD SURABAYA-Pada Hari Senin, 7 Nopember 2011 pukul 10 WIB Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir Moch Samsul Arifien MMA mengatakan penurunan harga jual tembakau itu cukup drastis. Terlebih, kini telah memasuki musim hujan dengan intensitas lebih, sehingga membuat tembakau petikan terakhir mengalami penurunan kualitas.

      Karena hujan membuat kualitas tembakau menurun, namun dapat meningkatkan kuantitas hasil produksi berkisar 40 persen dibandingkan tanpa hujan. Beratnya pun bertambah karena tembakau menjadi berkembang. Seperti tembakau rajangan, sebelum turun hujan sebanyak 40 kilogram, dengan harga Rp 25.000, bisa memperoleh uang Rp1 juta. Setelah hujan, tembakau rajangan bisa mencapai 60 kilogram dengan harga Rp17.000/kg, perolehannya Rp 1 juta lebih

        Produksi tanaman tembakau di Jatim kini telah memasuki petikan terakhir (bagian pucuk) yang memiliki kualitas dan kadar nikotin sangat rendah. Ini berpengaruh pada harga jual. Misalnya, tembakau Virginia Voor Oosgt (VO) Bojonegoro, jika pada musim kemarau lalu harga bisa mencapai Rp 33 ribu per kilogram untuk tembakau rajangan, kini harganya hanya tersisa Rp 6-12 ribu per kilogram.

         Dari data Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) JATIM yaitu kini harga tembakau memang terus anjlok. Melorotnya harga itu dikarenakan jumlah produksi yang mengalami overload. Jika area tanam 2010 hanya 105 ribu hektar dengan produksi sekitar 80 ribu hingga 90 ribu ton, tahun ini area tanam yang ada seluas 123 ribu hektar dengan produksi 100 ribu ton lebih.

       Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Timur Bpk Amin Subarkah mengatakan jumlah produksi yang melimpah itu didukung oleh musim kemarau yang cukup panjang. Meski musim panen kali ini produksi tembakau meningkat sekitar 15 ribu ton dari sebelumnya 115 ribu ton, namun tidak diikuti harga jualnya meningkat. Sebaliknya, produksi tembakau yang mencapai 125 ribu ton membuat harga tembakau di sejumlah daerah di Jatim anjlok sekitar Rp 20 ribu per kg-nya.

         Sayangnya kualitas dan produksinya bagus, harganya malah turun. Rata-rata turunnya sekitar Rp 20 ribu per kg. Kami masih mengusahakan agar industri besar tetap menyerap tambakau dari petani.

     Melimpahnya produksi tembakau itu juga terus diserap oleh gudang-gudang pabrik rokok. Karena jumlahnya yang melimpah, kini banyak pula gudang pabrik rokok besar yang mulai penuh, sehingga sisa hasil produksi yang tidak diserap oleh industri besar kemudian dibeli oleh industri kecil dengan harga relatif murah.

      Kepala Dinas Perhutanan dan Perkebunan Bojonegoro, Bpk Achmad Djupari mengatakan, turunnya hujan di wilayah Bojonegoro memang dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas tembakau. Ia pun mengimbau pada para petani agar tak memanen tembakaunya langsung usai terkena guyuran hujan. Kalau tembakau terguyur hujan, biarkan dulu satu atau dua hari, setelah itu baru dipanen agar kualitasnya tetap bagus dan tak gampang busuk, karena terlalu lembab.

       Ia juga optimistis tanaman tembakau di wilayahnya baik yang ditanam sesuai jadwal, maupun di luar jadwal tetap bisa diserap pabrikan dan pedagang. Pertimbangannya, menjelang akhir panen ini, pedagang dari luar daerah masih melakukan pembelian, seperti dari Madura, Probolinggo, serta Parakan Klaten dan Temanggung Jawa Tengah.

    Para pedagang itu, katanya, melakukan pembelian tembakau baik Virginia VO rajangan dan krosok, karena untuk dijual kembali di daerahnya dengan harga yang lebih tinggi. Meskipun tembakau yang dibeli di Bojonegoro tersebut sebagian besar merupakan petikan atas. Berdasarkan data pada Kantor Dinas Perhutanan dan Perkebunan, tanaman tembakau Virginia VO yang ditanam, sesuai jadwal, Mei-Juni luasnya mencapai 12.250 hektare. Sedangkan tembakau yang ditanam di luar jawal berkisar Juli, yang diperkirakan luasnya mencapai 1.000 hektare, sekarang ini sudah mendekati akhir panen. (Ronny)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar